Senin, 14 Januari 2013

THE BLACK CHINESE

kesempatan kali ini aku mencoba menuangkan.
.bukaan,,!!!.hmm bukan itu maksud ku,, tapi yg ku maksudkan disini adalah menuangkanya ???? mengupas ,menguliti , dan memper... apa ...yaaa ,,, ah bingung GUE ,,, up to YOu ajalah mendeskripsikan nya bagaimana...yang jelas aku nya hanya sedikit memamamerkan kekuatan dan posisi tetangga tetangga Gue di tanah Rencong ujung pulau sumatra,,NAh,,,, tepat sekali seperti yg anda fikirkan,, aku mencoba menuangkannya dalam bentuk tulisan,, , 
 Dimalam yang tidak ada matahari ini, aku ingin berbicara tentang orang pidie (Aceh Pidie) yang dalam kamus perekonomian ala rimba adalah THE BLACK CHINESE nya indonesia... memang benar ketika berbicara perintis "GERAKAN" itu tidak sedikit yg berasal dari pidie .ada juga orang-orang hebat yang tidak bergerak di bidang ekonomi saja,sebut saja diantaranya Daud Bereueh dengan DI-TII yang tak ada matinya,,, atau Hasan Tiro dengan GAM-nya yang berjuang tiada gameover hampir 30 tahun,bayangkan bung ,,,#) 30 Tahun,,, 30 TAHUUUNNNN!!!!!! (diulang biar mendramatisir) , namun kita tidak bisa membicarakan hal tersebut , gak baik membuka luka lama,,,, "semoga yang telah tiada di trima di sisiNYA, AMiiin )

                            Hasan tiro dan bendera GAM (gerakan Aceh Merdeka)

nah yang mau di bicarakan disini adalah  bahwa sebenarnya masyarakat Pidie juga dikenal dengan warisan budaya turun-temurun yang sampai kini masih dianut kuat oleh masyarakatnya, yaitu semangat merantau. pada dasarnya merantau itu bukan hanya merupakan simbol independesi dan kedewasaan, akan tetapi juga dorongan untuk sukses, membangun jaringan berdakwah dan pengakuan akan eksistensi identitas (bagian penting dalam riwayat hidup).Oleh karena demikian rupanya, kekentalnya tradisi merantau di Pidie, banyak yang menyebut mereka dengan istilah ‘Cina Hitam’ (The Black Chinese) klo bahasa nangroe, "CINA KLENG". Ini barangkali merujuk kepada prestasi mereka yang dianggap menyamai prestasi kesuksesan ekonomi dan perdagangan bangsa Cina yang sebenarnya. Putera kelahiran Pidie sangat banyak yang dikenal luas sebagai orang yang sukses di perantauan, tidak hanya sebagai pedagang atau pengusaha maupun politisi yang mendapat kedudukan penting di birokrasi pemerintahan. Terus Mengapa Cina Hitam? Meskipun klaim Cina Hitam juga ditasbihkan ke warga Bugis di Sulawesi Selatan, tradisi migrasi di Pidie sudah dikenal sejak lama. Kendati sektor utama penggerak perekonomian Pidie adalah pertanian, namun ini bukan berarti pola pikir, semangat dan cara pandang mereka sangat tertutup dan terbelakang, sebagaimana lazimnya masyarakat agraris. Mereka bahkan berpikir lebih maju, visioner, dan bercita-cita tinggi atau outward looking (Haris 1997:117-118). Sikap berpangku tangan bukanlah ciri khas masyarakat di Pidie. Bahkan sebaliknya, pantang bagi orang Pidie berpangku tangan duduk di rumah dan menganggur. Sudah lumrah jika seseorang telah dewasa (khususnya anak laki-laki) untuk merantau ke kota, baik mencari ilmu ataupun berdagang. Lalu, mengapa orang lebih familiar dengan sebutan Cina Hitam bagi orang Pidie? Bukan Minang atau Padangnya Aceh? Menurut keterangan Drs. H. Abdul Rahman Kaoy (Wakil Ketua Majelis Adat Aceh), spesialis dalam bidang adat, budaya dan dakwah, label Cina Hitam lebih mendunia bila dibandingkan dengan istilah Padangnya Aceh atau yang lainnya. Ini membuktikan visi orang Pidie yang memang berkeinginan untuk memperluas jaringan, tidak hanya di dalam level lokal di Aceh, namun juga secara regional di Pulau Sumatera, Indonesia dan bahkan internasional. Kebiasaan merantau masyarakat Pidie kabarnya juga sama dengan kebiasaan masyarakat Bireuen. Masyarakat Pidie dikaitkan pula dengan urang awak di Padang - Sumatera Barat, karena merantau selalu diasosiasikan dengan berdagang. Alasan lain mengapa diindetikkan dengan bangsa Cina yg katanya doeloe disebut Tionghoa? adalah karena mereka dikenal senang bermigrasi ke seluruh dunia dan akhirnya sukses dan mandiri secara ekonomi. Tibalah kemudian pada kesimpulan bahwa kegigihan orang Pidie itu sama dengan persistensi, dan kegigihan bangsa Cina. Lalu, budaya Cina yang beragama Budha juga hampir serupa dengan budaya masyarakat Pidie yang beragama Hindu (dari India) sebelum datangnya Islam. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa orang Pidie itu rajin menabung bahkan cenderung pelit layaknya orang Cina karena ingin berinvestasi di masa depan. Sehingga kemudian berkembang istilah kriet lagee Pidie atau pelit seperti orang Pidie. Sedangkan kosakata itam (bahasa Aceh untuk hitam) yang dilekatkan setelah kata Cina sehingga menjadi cina htam, itu lebih dikarenakan wajah dan postur fisik kebanyakan masyarakat Pidie mirip dengan perawakan orang keturunan India atau dulunya disebut dengan Hindustan di Asia Selatan. Di Pidie sendiri, menurut kesaksian Rosihan Anwar (1986: 30) ‘kebiasaan masyarakatnya mirip di India, dimana sapi berkeliaran dengan bebas di jalanan. Perawakan orangnya pada umumnya juga tampan, berkulit hitam manis dan berhidung mancung, yah lebih kurang seperti penulis laah,,hmm UUJ (Ujung2nya Jampo/burung hantu). Dari filosofi ke praktekSalah satu spirit yang memicu kesuksesan perantauan masyarakat Pidie adalah beberapa prinsip yang mereka anut, khususnya dalam dunia dagang. Falsafah inilah yang menjadi sumber inspirasi mereka. Dalam hal ini kabarnya orang Pidie menerapkan apa yang disebut politik dagang. Falsafah yang paling sering didengar adalah ‘modal siploh-dipeubloe sikureung, lam tiep-tiep rueung na laba’. Artinya, modal sepuluh-dijual sembilan, dalam setiap ruang (transaksi pembelian) ada keuntungan. Politik dagang semacam ini membuat para saingan dagang, seperti orang Bireuen dan Padang khawatir. Bahkan mereka ini kemudian mengeluhkan kebijakan tersebut. Pada kenyataannya dengan menurunkan harga barang, mereka tetap bisa mendapatkan keuntungan. Sebuah strategi dagang yang cukup membuat mereka cepat sukses dimana saja. Selain itu pelayanannya bisa jadi berbeda dan spesial. Untuk membuka toko saja misalnya, pada hari pertama mereka menyediakan makanan khas Aceh atau tumpeng kuning. Selain itu bagi orang-orang non-Pidie di Aceh ada semacam anekdot yang berkembang bahwa kita disarankan berhati-hati dalam berteman dengan orang Pidie. Ini karena jika seseorang punya toko atau kedai, awalnya pada tahun-tahun pertama merantau, mereka (orang Pidie) hanya meminta berjualan dan membuka lapak di emperan depan toko. Kemudian setelah dua hingga lima tahun berlalu, maka orang Pidie itu yang akan menjadi pemilik toko (toke) dan kemudian malah sang pemilik toko yang dulu gantian berjualan di emperan toko yang dulu miliknya.hmmmm.. Kebanyakan orang Pidie yang merantau berprofesi sebagai pedagang baik kecil ataupun besar. Di kota-kota besar di luar Aceh, seperti di Medan, Jakarta atau Bandung para pedagang makanan khas mi Aceh berasal dari Pidie. Dalam keterangan lain disebutkan bahwa ada yang menjadi pedagang, pengembara, dan bahkan nasionalis - menjadi tokoh publik, orang penting atau politisi ulung (Graf, et.all 2010:162). Sehingga tidak mengherankan jika kebanyakan politisi asal Aceh yang duduk di kementerian adalah orang Pidie, kebanyakan anggota dewan DPR-MPR RI di Senayan termasuk mereka yang vokal juga dari Pidie.tidak perlu lah aku sebutkan satu persatu,, nggak siap malam ini nati tulisannya Terakhir.. merantaunya orang Pidie tidaklah semata demi alasan keuangan, tapi juga semangat untuk maju dan memperluas jaringan dan saudara. Meskipun sektor penggerak ekonomi utama adalah bertani, namun masyarakat Pidie punya visi hidup yang maju dan terbuka, tidak sebagaimana masyarakat agraris lain pada umumnya. Sehingga adat merantau warga Pidie di Aceh adalah sebuah khasanah yang perlu terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Tapi ada juga sisi parah nya dari MERANTAU nya orang pidie yakni Tekat keinginan kaya dan pantang menyerah sekalipun berbahaya untuk ditempuh , sebut saja SI KURIR GANJA  atau bahasa asik nya pedagang tanpa bea cukai,
ranah aceh memang terkenal akan kesuburan tanaman, tanpa kecuali bagi habitat tanaman terlarang GANJA ( Cannabis indica ) siapa yang tak kenal dengan makhluk satu ini .
nah ini lah jalan pintas kaya yang sering di ambil para pedagang tanp[a beacukai itu terutama untuk expor ilegal ke malaysiah. meski resikonya berakhir di GANTUNGAN , namun tetap saja tak tergugah , mungkin karena terlalu pungo (gila) ,liat saja berita metro atau TV One Atau pun chanel lainnya ,tiap ada makhluk itu tertangkap pasti asal nya ACEH ... miris memang tapi itu lah nyatanya.

 adalagi hal unik di pidie ini yakni sifat gengsi menyerah, sekalipun yang dilawan adalah preman tanah abang, yakkk ada satu orang pidie yang katanya malah jadi ketua preman di tanah abang ,hal ini karena dia mengalahkan geng preman tanah abang seorang diri hanya karena dia merasa terusik dengan preman tersebut,,,
wahhhh bukan hal yang pantas di banggakan memang, tapi cukup lah menjadi acuan untuk tidak mencari masalah dengan orang ini...
tapi9 di stu sisi orang orang ujung sumatra ini mempunyai kelembutan yang sangat besar , seperti kata pepetah setempat "1 bak jih ,1000 bak lon' (1 dari dia 1000 dari saya ) maksudnya ya satu kebaikan di balas 1000 kebaikan , begitu juga sebalik nya,,,
yap ,,, akhirnya tanah sejuta cerita ini tak akan habis sampai disini,,,, tunggu perahu kertass dari ku lagi lah ya.... salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silakan silakan,,,, !!! saya buatkan minuman dulu